Home Entertainment Katy Perry Murka, Lagu “Firework” Dipakai oleh Gedung Putih untuk Video Serangan...

Katy Perry Murka, Lagu “Firework” Dipakai oleh Gedung Putih untuk Video Serangan Militer

10
0
Katy Perry Murka, Lagu “Firework” Dipakai oleh Gedung Putih untuk Video Serangan Militer
Foto: Instagram/Katy Perry
Iklan Top Ad Urbanvibes Banner

Halo, urbie’s! Penyanyi pop dunia Katy Perry melontarkan kritik keras setelah lagu hitnya, “Firework”, digunakan dalam sebuah video yang diunggah akun resmi TikTok Gedung Putih. Video tersebut menampilkan rekaman serangan militer yang dipadukan dengan potongan lirik lagu ikonik miliknya, sehingga memicu reaksi negatif dari sang penyanyi.

Video yang diunggah pada Kamis itu memperlihatkan cuplikan ledakan bom dengan iringan bagian lagu “Firework”, termasuk lirik “boom, boom, boom”. Di dalam unggahan tersebut juga terdapat keterangan bertuliskan, “Iran has been warned.” Penggunaan lagu yang selama ini dikenal sebagai simbol harapan dan semangat justru dianggap bertolak belakang dengan isi video yang menampilkan aksi militer.

Melalui akun X miliknya pada Sabtu, Katy Perry menyampaikan kekecewaan sekaligus kemarahannya. Ia menegaskan bahwa dirinya sama sekali tidak pernah memberikan izin ataupun dimintai persetujuan sebelum lagunya digunakan dalam konten tersebut.

“My music is for bringing people together, not celebrating warfare.”

Perry menjelaskan bahwa sejak awal ia menulis “Firework” sebagai lagu yang membawa pesan harapan, penyembuhan, serta kekuatan batin bagi mereka yang sedang melewati masa-masa sulit dalam kehidupan. Karena itu, melihat lagu tersebut dijadikan latar video yang menampilkan kekerasan dan kehancuran membuatnya merasa makna asli dari karya tersebut telah disalahartikan.

Menurut pelantun Teenage Dream itu, penggunaan lagu yang mengangkat pesan tentang harga diri dan semangat hidup untuk mengiringi tayangan serangan militer merupakan bentuk penyimpangan terhadap nilai yang ingin ia sampaikan kepada para pendengar di seluruh dunia.

Baca Juga:

Kontroversi ini kembali memunculkan perdebatan mengenai penggunaan karya musik oleh institusi pemerintah maupun tokoh politik tanpa persetujuan dari penciptanya. Meski dalam beberapa situasi penggunaan musik dapat memiliki dasar hukum tertentu, banyak musisi menilai bahwa pemakaian lagu mereka dalam konteks politik atau militer dapat menciptakan kesan seolah-olah mereka mendukung pesan yang disampaikan, padahal kenyataannya tidak demikian.

Katy Perry bukanlah artis pertama yang menyuarakan keberatan terhadap penggunaan lagu mereka oleh pemerintahan Donald Trump maupun akun resmi Gedung Putih. Sebelumnya, sejumlah musisi seperti Ariana Grande, Sabrina Carpenter, Olivia Rodrigo, Celine Dion, hingga Kenny Loggins juga pernah menyampaikan protes atas penggunaan karya mereka dalam berbagai konten politik.

Awal tahun ini, penyanyi Kesha juga mengkritik penggunaan lagunya “Blow” dalam video TikTok resmi Gedung Putih yang menampilkan pesawat tempur dengan keterangan bertuliskan “Lethality.” Melalui media sosial, Kesha menyebut penggunaan musiknya untuk mempromosikan atau menggambarkan kekerasan sebagai tindakan yang tidak manusiawi dan menegaskan bahwa ia sama sekali tidak menyetujuinya.

Kasus yang melibatkan Katy Perry kembali menjadi pengingat bahwa sebuah lagu tidak hanya memiliki nilai hiburan, tetapi juga membawa pesan, makna, dan identitas yang melekat pada penciptanya. Ketika sebuah karya digunakan di luar konteks yang dimaksudkan, terlebih untuk menggambarkan konflik atau aksi militer, reaksi dari sang artis menjadi sesuatu yang tidak dapat dihindari.

Peristiwa ini juga menunjukkan semakin besarnya perhatian para musisi terhadap bagaimana karya mereka digunakan di era media sosial. Di tengah cepatnya penyebaran konten digital, para seniman kini semakin vokal dalam menjaga pesan yang ingin mereka sampaikan melalui musik agar tidak disalahgunakan atau dikaitkan dengan agenda yang bertentangan dengan nilai-nilai yang mereka yakini.