Home Lifestyle Strasbourg The Dancing Plague 1518: Ketika Ratusan Orang Menari Sampai Tubuh Mereka...

Strasbourg The Dancing Plague 1518: Ketika Ratusan Orang Menari Sampai Tubuh Mereka Menyerah

26
0
ilustrasi The Dancing Plague of 1518 di Strasbourg - sumber foto istimewa
ilustrasi The Dancing Plague of 1518 di Strasbourg - sumber foto istimewa
Iklan Top Ad Urbanvibes Banner

Hi Urbie’s! Bayangkan sebuah kota di Eropa pada abad ke-16 tiba-tiba dipenuhi orang-orang yang menari tanpa musik, tanpa pesta, dan yang paling mengerikan, mereka seolah tidak mampu menghentikan tubuhnya sendiri. Tidak ada panggung, tidak ada festival, tetapi selama berminggu-minggu jalanan Strasbourg berubah menjadi tempat berlangsungnya salah satu fenomena paling aneh dalam sejarah: The Dancing Plague of 1518.

Peristiwa ini bukan legenda urban atau cerita horor yang baru ditemukan dari internet. Dancing Plague tercatat dalam sejumlah catatan sejarah dan hingga sekarang masih menjadi misteri yang memancing perdebatan para sejarawan serta ilmuwan.

Semuanya Bermula dari Frau Troffea

Kisah aneh tersebut bermula pada Juli 1518, ketika seorang perempuan bernama Frau Troffea tiba-tiba mulai menari di sebuah jalan di Strasbourg. Tidak ada catatan bahwa ia sedang merayakan sesuatu atau mengikuti musik tertentu.

Yang membuat peristiwa ini semakin ganjil adalah kenyataan bahwa Troffea tidak berhenti. Selama berjam-jam, ia terus bergerak seolah tubuhnya kehilangan kemampuan untuk mengatakan cukup.

Beberapa hari kemudian, perilaku tersebut mulai menular kepada orang lain. Dalam waktu sekitar satu minggu, lebih dari 30 orang disebut telah ikut menari.

Dan jumlahnya belum berhenti di situ.

Dari Puluhan Menjadi Ratusan Penari

Dalam beberapa minggu berikutnya, kelompok tersebut dilaporkan berkembang secara dramatis. Perkiraannya bervariasi, tetapi pada puncaknya fenomena tersebut disebut melibatkan sekitar 400 orang.

Bayangkan Strasbourg pada masa itu. Di tengah jalanan kota, puluhan hingga ratusan orang bergerak tanpa henti, sementara masyarakat di sekitarnya menyaksikan sesuatu yang mungkin sama sekali tidak mereka pahami.

Tidak ada teknologi medis modern untuk menjelaskan kondisi tersebut. Bahkan para dokter pada masa itu memiliki penjelasan yang sangat berbeda dengan pemahaman medis sekarang.

Yang terjadi kemudian justru membuat kisah ini semakin menyeramkan.

Dokter Justru Meminta Mereka Terus Menari

Pada masa tersebut, sejumlah dokter Strasbourg mempercayai teori bahwa para penari mengalami kondisi akibat “darah panas”. Solusi yang diberikan terdengar hampir tidak masuk akal jika dilihat dari perspektif medis modern.

Para penderita justru dianjurkan untuk terus bergerak agar kondisi mereka membaik. Kota bahkan dilaporkan menyediakan ruang dan tempat tertentu agar para penari dapat terus melakukan aktivitas tersebut.

Namun, tubuh manusia memiliki batas.

Ketika seseorang terus menari selama berjam-jam atau bahkan berhari-hari tanpa istirahat yang cukup, konsekuensinya bisa sangat serius. Beberapa laporan sejarah menyebut sebagian orang meninggal akibat serangan jantung, stroke, atau kelelahan ekstrem.

Angka kematiannya sendiri masih diperdebatkan karena catatan sejarah tidak selalu konsisten. Tetapi fakta bahwa fenomena tersebut benar-benar terjadi dan menyebabkan konsekuensi fisik serius membuat Dancing Plague tetap menjadi salah satu kasus paling menarik dalam sejarah Eropa.

Apa Sebenarnya yang Membuat Mereka Menari?

Inilah bagian yang sampai sekarang membuat Dancing Plague of 1518 sulit ditutup dengan satu jawaban.

Salah satu teori modern yang paling banyak dibahas menyebut fenomena tersebut sebagai bentuk mass psychogenic disorder, atau gangguan psikogenik massal. Dalam kondisi seperti ini, tekanan psikologis yang sangat berat dapat memunculkan gejala fisik dan perilaku tertentu pada sekelompok orang.

Strasbourg pada 1518 bukanlah kota yang sedang hidup dalam kondisi ideal. Masyarakat menghadapi kemiskinan, kelaparan, penyakit, serta berbagai tekanan sosial.

Dalam situasi ekstrem seperti itu, stres kolektif mungkin memiliki peran terhadap munculnya fenomena yang kemudian menyebar di antara masyarakat.

Namun, teori tersebut bukan satu-satunya kemungkinan.

Baca juga:

Ada Teori Roti Beracun

Teori lain yang pernah muncul menghubungkan peristiwa tersebut dengan ergot, sejenis jamur yang dapat tumbuh pada tanaman serealia seperti gandum hitam atau rye.

Jamur tersebut menghasilkan senyawa yang memiliki efek terhadap sistem saraf dan pernah dikaitkan dengan gejala halusinasi maupun kejang. Karena masyarakat pada masa itu sangat bergantung pada roti, muncul dugaan bahwa konsumsi rye yang terkontaminasi mungkin berperan dalam fenomena tersebut.

Namun, teori ini juga memiliki kelemahan.

Gejala keracunan ergot tidak sepenuhnya cocok dengan pola Dancing Plague yang tercatat. Karena itu, hingga kini para peneliti masih melihat fenomena Strasbourg sebagai sebuah kasus yang kemungkinan memiliki faktor kompleks, bukan sekadar satu penyebab tunggal.

Kenapa Kisah Ini Masih Relevan?

Lebih dari 500 tahun kemudian, Dancing Plague of 1518 masih menarik karena berada di persimpangan antara sejarah, psikologi, kedokteran, dan misteri.

Kita mungkin sudah memiliki teknologi untuk memindai otak, memahami stres, mempelajari penyakit menular, dan menganalisis perilaku manusia. Tetapi ketika berhadapan dengan catatan dari Strasbourg pada 1518, masih ada bagian cerita yang tidak bisa dijawab secara pasti.

Dan justru ketidakpastian itulah yang membuatnya begitu menyeramkan.

Bukan karena kita tahu ada kekuatan supernatural di baliknya, melainkan karena kita tidak benar-benar tahu apa yang membuat ratusan manusia melakukan sesuatu yang secara fisik bisa membahayakan diri mereka sendiri.

Dari Sejarah Nyata Menjadi Inspirasi Horor

Bagi Urbie’s yang mengikuti perkembangan film horor Indonesia, Dancing Plague of 1518 menjadi semakin menarik karena peristiwa ini digunakan sebagai bagian dari latar Pengabdi Setan 3: Origin.

Film tersebut membawa cerita ke Strasbourg pada 1518 sebelum kemudian berpindah ke pesisir selatan Jawa pada abad ke-17. Dengan tema sekte dan perjanjian setan, peristiwa historis tentang ratusan orang yang menari tanpa kendali tentu memberikan pembuka yang atmosferiknya sudah mengerikan bahkan sebelum elemen supernatural dimasukkan.

Tetapi sejarah dan film tentu harus dipisahkan. Dancing Plague sendiri tidak memiliki bukti yang menunjukkan bahwa fenomena tersebut disebabkan oleh setan atau sekte tertentu.

Justru di situlah kekuatan sebuah cerita horor bekerja: mengambil sesuatu yang benar-benar pernah terjadi, lalu bertanya, “Bagaimana kalau di balik semua itu ternyata ada sesuatu yang belum kita ketahui?”

Lebih dari lima abad setelah Frau Troffea mulai menari di Strasbourg, pertanyaan tentang apa yang sebenarnya terjadi masih belum memiliki jawaban final.

Dan mungkin, Urbie’s, hal paling mengganggu dari Dancing Plague of 1518 bukanlah membayangkan ratusan orang menari tanpa henti.

Melainkan menyadari bahwa sampai hari ini, kita masih belum sepenuhnya tahu kenapa mereka melakukannya.