Hi Urbie’s! Bandung kembali diselimuti duka. Langit mendung seolah ikut mengiringi langkah para pelayat yang memadati TPU Cikutra pada Minggu (2/8/2026). Hari itu menjadi momen perpisahan terakhir bagi Bambang Sutrisno atau yang akrab dikenal sebagai Trisno, bassist Pas Band, yang telah mengabdikan puluhan tahun hidupnya untuk musik rock Indonesia.
Tangis keluarga, sahabat, hingga para penggemar pecah saat jenazah Trisno diantarkan menuju peristirahatan terakhir. Sosok yang dikenal tenang di atas panggung itu kini meninggalkan kenangan yang tak akan pernah pudar bagi rekan-rekannya di Pas Band maupun para penikmat musik Tanah Air.
Prosesi pemakaman berlangsung penuh haru. Banyak orang yang datang bukan hanya untuk mengucapkan selamat tinggal, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan kepada musisi yang menjadi bagian penting dari perjalanan salah satu band rock paling berpengaruh di Indonesia.
Ribuan Doa Mengiringi Kepergian Trisno
Sebelum dimakamkan di TPU Cikutra, jenazah Trisno terlebih dahulu dishalatkan di masjid yang berada tidak jauh dari kediamannya di Bandung.
Berdasarkan siaran langsung melalui akun Instagram @pasband.id, suasana di sekitar rumah duka hingga masjid dipenuhi pelayat yang datang silih berganti. Mereka berasal dari keluarga, kerabat, musisi lintas generasi, hingga penggemar yang telah mengikuti perjalanan Pas Band sejak era 1990-an.
Ucapan belasungkawa terus mengalir. Banyak yang terlihat menundukkan kepala sambil memanjatkan doa, sementara sebagian lainnya tak mampu menahan air mata ketika peti jenazah mulai diberangkatkan menuju TPU Cikutra.
Di lokasi pemakaman, personel Pas Band seperti Bengbeng, Sandy Andarusman, dan Yuki turut hadir mendampingi perjalanan terakhir sahabat sekaligus rekan seperjuangan mereka.
Bengbeng Turun ke Liang Lahat dan Kumandangkan Azan
Momen paling emosional terjadi sesaat setelah jenazah tiba di TPU Cikutra.
Bengbeng, gitaris Pas Band yang juga merupakan kakak kandung Trisno, bersama drummer Sandy Andarusman turun langsung ke liang lahat. Dengan penuh kehati-hatian, keduanya membantu menempatkan jenazah Trisno di peristirahatan terakhir.
Suasana yang sejak awal dipenuhi isak tangis berubah semakin menyayat hati ketika seluruh proses pemakaman selesai.
Di sisi makam sang adik, Bengbeng berdiri dengan wajah yang tampak berusaha tegar. Dengan suara bergetar menahan kesedihan, ia kemudian melantunkan azan sebagai penghormatan terakhir kepada Trisno.
Baca Juga:
- 3 Spot Kuliner Baru di iLLago Grande Gading Serpong yang Wajib Dicoba, Ada Sushi Mulai Rp5.000 hingga Cafe Work From Cafe
- Sinopsis Film Deep Water (2026): Berawal dari Satu Power Bank, Penerbangan Berubah Jadi Neraka di Laut Penuh Hiu
- Bunga di Tepi Jurang Tayang 31 Juli, Kisah Perjuangan Andini Siap Bikin Penonton Ikut Merasakan Setiap Emosinya
Kumandang azan itu membuat banyak pelayat tak lagi mampu membendung air mata. Beberapa terlihat menunduk, sementara yang lain saling menguatkan di tengah suasana duka yang begitu mendalam.
Momen tersebut menjadi salah satu potret paling mengharukan dalam prosesi pemakaman Trisno dan langsung mendapat perhatian luas dari para penggemar yang menyaksikan siaran langsung maupun rekaman video yang beredar di media sosial.
Cobaan Berat Bengbeng dalam Waktu Berdekatan
Kesedihan Bengbeng terasa semakin mendalam karena kehilangan ini datang hanya beberapa pekan setelah dirinya ditinggal oleh sang istri tercinta.
Pada 11 Juli 2026 lalu, Anita Dian Savitri meninggal dunia dan dimakamkan di TPU Cikutra, lokasi yang sama dengan makam Trisno.
Belum genap sebulan berlalu, Bengbeng kembali harus mengantarkan orang terdekatnya ke tempat peristirahatan terakhir. Kehilangan dua sosok yang sangat berarti dalam waktu yang begitu singkat menjadi cobaan berat yang mengundang simpati dari banyak pihak.
Dukungan dari rekan-rekan musisi hingga para penggemar terus mengalir untuk memberikan semangat kepada gitaris Pas Band tersebut.
Perjuangan Panjang Melawan Gagal Ginjal
Trisno mengembuskan napas terakhir pada Sabtu (1/8/2026) pukul 14.30 WIB di RS Hermina Bandung dalam usia 56 tahun.
Sebelum meninggal dunia, ia menjalani perawatan intensif akibat penyakit gagal ginjal yang telah lama dideritanya.
Sandy Andarusman sebelumnya sempat menceritakan bahwa kondisi kesehatan Trisno terus mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Berat badannya menyusut cukup drastis, sementara kedua kakinya mengalami pembengkakan akibat komplikasi penyakit.
Meski tubuhnya semakin lemah, Trisno dikenal memiliki karakter santai. Ia disebut masih berusaha menjalani aktivitas seperti biasa dan sempat menunda pemeriksaan medis secara menyeluruh.
Seiring waktu, kondisi kesehatannya semakin memburuk hingga akhirnya harus menjalani cuci darah secara rutin.
Tak hanya gagal ginjal, tim medis juga menemukan adanya sumbatan pembuluh darah di otak yang meningkatkan risiko stroke. Situasi tersebut membuat proses pemulihan menjadi semakin berat.
Sempat Dipersiapkan Transplantasi Ginjal
Melihat perkembangan kondisi Trisno yang terus menurun, keluarga bersama tim dokter sempat menyiapkan kemungkinan transplantasi ginjal sebagai upaya penyelamatan.
Harapan itu sempat menjadi secercah optimisme bagi keluarga maupun sahabat dekat. Namun, kondisi kesehatannya terus mengalami penurunan hingga akhirnya perjuangan panjang melawan penyakit harus berakhir pada Sabtu siang.
Kepergian Trisno meninggalkan luka mendalam, bukan hanya bagi keluarga, tetapi juga dunia musik Indonesia. Selama puluhan tahun, namanya menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan Pas Band, grup yang dikenal lewat karakter musik rock alternatif yang kuat dan berhasil melahirkan banyak karya ikonik.
Kini, Trisno telah berpulang. Namun, permainan bass, dedikasi, serta jejak musik yang ia tinggalkan akan terus hidup di hati para penggemar. Di tengah suasana haru di TPU Cikutra, satu hal yang terasa begitu nyata: seorang musisi mungkin telah pergi, tetapi karya dan kenangannya akan terus bergema melintasi waktu.


















































