Hi Urbie’s! Ada momen ketika masa lalu tiba-tiba datang lewat sesuatu yang sederhana, dan bagi Aldi Taher, momen itu hadir ketika wajahnya muncul di unggahan band rock yang sudah ia sukai sejak zaman sekolah. Bukan sembarang band, JET, grup rock asal Australia yang dikenal lewat lagu-lagu seperti “Are You Gonna Be My Girl”, menjadi pemicu nostalgia sekaligus membuat Aldi kembali membicarakan dukungan untuk Palestina.
Aldi membagikan momen tersebut melalui akun Instagram pribadinya dengan ekspresi penuh kegembiraan sekaligus haru. Dalam unggahannya, ia menyebut JET sebagai band kesayangannya sejak SMA dan memberikan apresiasi kepada sang vokalis, Nic Cester, yang menurut Aldi menunjukkan dukungan terhadap Palestina.
Wajah Aldi Muncul di Akun Band Kesayangannya
Bagi sebagian orang, wajah muncul di unggahan band idola mungkin terdengar seperti momen kecil. Namun, bagi Aldi, pengalaman tersebut terasa seperti sebuah lingkaran yang akhirnya kembali ke titik awal, dari seorang anak muda yang menikmati musik rock hingga dirinya kini mendapat perhatian dari band yang dulu ia kagumi.
“Masya Allah,” tulis Aldi dalam unggahannya ketika melihat wajahnya muncul di postingan JET. Ia kemudian menyebut Nic Cester sebagai “real rock star hero” karena sikapnya yang ia nilai turut menunjukkan dukungan terhadap Palestina.
Unggahan itu kemudian berkembang menjadi lebih dari sekadar fanboy moment. Aldi membawa kembali kenangan ketika dirinya bersama sejumlah teman pernah membawakan lagu-lagu JET saat masih muda.
Dari Lagu JET ke Kenangan Masa Muda
Nama-nama seperti Raffi Ahmad, Nagita Slavina, Irwansyah, Ipe Sinaga, dan Mendeseven ikut disebut Aldi dalam unggahan tersebut. Ia mengajak mereka mengingat kembali masa ketika lagu-lagu JET pernah menjadi bagian dari momen bermusik mereka.
Kalimat tersebut terasa seperti membuka album foto lama, tetapi bukan dalam bentuk foto. Musik menjadi pemicunya, karena satu lagu bisa membawa seseorang kembali ke sebuah panggung kecil, masa pertemanan, atau periode hidup ketika semua terasa jauh lebih sederhana.
Buat Urbie’s yang tumbuh dengan musik rock, pengalaman seperti ini mungkin terasa familiar. Ada band tertentu yang bukan cuma menjadi pengisi playlist, tetapi juga menjadi soundtrack dari sebuah fase kehidupan yang tidak bisa diulang.
Bagi Aldi, JET tampaknya berada di posisi tersebut. Band itu bukan sekadar nama dari masa lalu, melainkan bagian dari memori yang masih terasa cukup kuat hingga hari ini.
Aldi Soroti Dukungan Nic Cester untuk Palestina
Hal lain yang membuat unggahan Aldi menarik adalah bagaimana nostalgia tersebut kemudian bertemu dengan isu kemanusiaan. Ia secara terang-terangan memberikan apresiasi kepada Nic Cester yang ia sebut mendukung Palestina.
Bagi Aldi, sikap tersebut membuat sosok Nic bukan hanya seorang musisi yang ia kagumi karena karya-karyanya. Ia bahkan menyebut sang vokalis sebagai “real rock star hero”, memperlihatkan bahwa kekagumannya kali ini tidak berhenti pada musik.
Musik memang sering kali memiliki hubungan erat dengan berbagai isu sosial dan kemanusiaan. Ketika seorang musisi menggunakan ruang publiknya untuk menyuarakan sesuatu yang dianggap penting, pesan tersebut dapat menjangkau audiens yang jauh lebih luas daripada sekadar panggung konser.
Baca juga:
- Aldi Taher Tantang Baskara Putra Debat Intelek, Bela Kameramen yang Disebut ‘Katro’
- Strategi Marketing Random Aldi Taher Bikin Aldis Burger Viral di Media Sosial
Dalam konteks unggahan Aldi, musik JET akhirnya menjadi pintu masuk menuju pembicaraan yang lebih besar. Nostalgia terhadap band kesayangan berubah menjadi apresiasi terhadap sikap seorang musisi terhadap isu Palestina.
Aldi: “Allah Punya Cara Sendiri”
Di tengah rasa senangnya, Aldi juga menuliskan kalimat yang bernuansa religius mengenai bagaimana ia melihat momen tersebut. Ia menyebut bahwa dirinya percaya Allah memiliki cara sendiri untuk mengungkap sesuatu.
Kalimat itu menunjukkan bahwa bagi Aldi, kemunculan wajahnya di unggahan JET bukan sekadar kebetulan digital. Ada sisi personal dan emosional yang membuat momen tersebut terasa lebih bermakna baginya.
Namun, Aldi tidak berhenti di sana. Ia juga menyampaikan sindiran kepada media yang menurutnya justru lebih sering mengangkat berita yang dianggap kurang bermutu dibandingkan cerita seperti ini.
“Mana Hai Rock and Roll?”
Bagian paling nyentrik dari unggahan Aldi datang ketika ia menandai akun HAI dan mempertanyakan mengapa berita seperti ini tidak mendapat perhatian. Dengan gaya khasnya, Aldi bahkan menyindir pemberitaan yang menurutnya lebih banyak mengekspos hal-hal berbau aurat dan birahi.
“Mana HAI Rock and Roll?” menjadi semacam teriakan nostalgia sekaligus kritik dari Aldi kepada media yang selama ini identik dengan kultur musik dan anak muda. Ia tampaknya ingin mengatakan bahwa kisah tentang musik, musisi, dan sikap kemanusiaan juga layak mendapatkan ruang di tengah derasnya arus berita hiburan.
Terlepas dari gaya penyampaiannya yang kontroversial, unggahan tersebut memperlihatkan bagaimana sebuah momen sederhana bisa berubah menjadi percakapan yang lebih panjang. Ada nostalgia, musik rock, persahabatan, Palestina, keyakinan, hingga kritik terhadap media yang semuanya bertemu dalam satu postingan.
Pada akhirnya, Urbie’s!, cerita Aldi Taher dan JET bukan cuma soal seorang penggemar yang wajahnya muncul di akun band idolanya. Ini adalah cerita tentang bagaimana musik yang menemani seseorang sejak SMA bisa tetap memiliki tempat puluhan tahun kemudian, bahkan ketika maknanya berkembang dari sekadar lagu menjadi kenangan, identitas, dan sikap terhadap isu yang dianggap penting.














































