Hi Urbie’s! Ada satu hal yang sering kita lakukan tanpa sadar: melihat seseorang, menilai penampilannya, lalu menganggap kita tahu bagaimana kehidupannya hanya dari apa yang terlihat. Ariana Grande baru-baru ini membuka sisi personal dari perjalanan hidupnya dan mengingatkan bahwa tubuh yang terlihat “paling sehat” di mata orang lain ternyata bisa saja sedang berada dalam kondisi yang sama sekali berbeda.
Ariana berbicara mengenai perjuangannya menghadapi anoreksia sekaligus masa sulit dalam hidupnya. Pengakuannya menjadi penting bukan hanya karena datang dari salah satu nama terbesar di industri hiburan, tetapi juga karena menyentuh kebiasaan publik yang sering mengomentari tubuh seseorang seolah penampilan adalah cermin langsung dari kesehatan.
Saat Publik Mengira Ariana Sedang Paling Sehat
Ada ironi yang cukup menyakitkan dalam cerita Ariana. Ketika banyak orang justru melihat tubuhnya dan menganggap dirinya berada dalam kondisi yang “lebih sehat”, Ariana mengatakan bahwa secara mental dan kehidupannya saat itu justru sedang tidak baik-baik saja.
Penampilan akhirnya menjadi sesuatu yang menipu. Apa yang terlihat dari luar tidak selalu mampu memperlihatkan apa yang sedang terjadi di dalam diri seseorang.
Ariana mengungkap bahwa pada periode tersebut ia sedang berada dalam salah satu masa tersulit dalam hidupnya. Ia juga mengatakan bahwa kala itu dirinya sedang mengonsumsi antidepresan, mengonsumsi alkohol, dan memiliki pola makan yang tidak baik.
Pengakuan tersebut memperlihatkan betapa sederhananya manusia sering membuat kesimpulan dari sesuatu yang sebenarnya sangat kompleks. Ketika seseorang terlihat lebih kurus atau memiliki bentuk tubuh tertentu, publik bisa buru-buru memberikan label seperti “sehat”, “lebih cantik”, atau “lebih baik”, tanpa pernah tahu perjuangan yang sedang dialaminya.
Tubuh Seseorang Bukan Undangan untuk Dikomentari
Buat Urbie’s, mungkin bagian paling kuat dari cerita Ariana justru bukan ketika ia membicarakan masa sulitnya. Pesan yang ingin ia sampaikan sekarang jauh lebih sederhana: berhenti mengomentari tubuh orang lain.
Permintaan tersebut terdengar sederhana, tetapi praktiknya ternyata tidak semudah itu. Di era ketika foto seseorang bisa mendapatkan jutaan likes dan komentar dalam hitungan menit, tubuh selebritas sering kali diperlakukan seperti konsumsi publik.
Perubahan berat badan sedikit saja bisa menjadi bahan perbincangan. Foto lama dibandingkan dengan foto terbaru, bentuk wajah dianalisis, bahkan kondisi kesehatan seseorang seolah bisa didiagnosis hanya melalui sebuah unggahan media sosial.
Padahal, tidak ada yang benar-benar tahu cerita lengkap di balik sebuah tubuh. Apa yang terlihat sebagai “pujian” bagi satu orang bisa menjadi sesuatu yang justru memperkuat tekanan dan rasa tidak nyaman bagi orang lain.
“Kamu Terlihat Lebih Sehat” Tidak Selalu Jadi Pujian
Pengalaman Ariana juga membuat kita perlu berhenti sejenak terhadap kalimat yang sering dianggap sebagai pujian. Mengatakan seseorang terlihat lebih sehat, lebih kurus, lebih berisi, atau lebih baik dari sebelumnya mungkin terdengar positif, tetapi kita tidak pernah tahu bagaimana kondisi orang tersebut ketika menerima komentar itu.
Baca juga:
- Ariana Grande Ambil Jeda dari Publik, Ada Apa dengan Kondisi Kesehatannya?
- Ariana Grande Libatkan Kreator Asal Depok di Video Musik Terbarunya, Intip Karya Tsaqif Baihaqi
Dalam kasus Ariana, persepsi publik bahkan bertolak belakang dengan apa yang ia rasakan sendiri. Saat orang lain melihat sesuatu yang mereka anggap sebagai tanda kesehatan, Ariana justru sedang melewati periode yang berat dalam kehidupannya.
Di sinilah masalah body commentary menjadi semakin jelas. Kita sering menganggap penampilan sebagai sesuatu yang boleh dibahas karena terlihat oleh mata, padahal kondisi seseorang jauh lebih kompleks daripada apa yang bisa ditangkap kamera.
Ariana Sekarang Belajar Menerima Dirinya
Setelah melewati masa tersebut, Ariana mengatakan bahwa hubungannya dengan dirinya sendiri kini jauh lebih baik. Ia mengaku sekarang lebih mencintai dan menerima dirinya sendiri dibandingkan sebelumnya.
Pernyataan itu mungkin terdengar sederhana, tetapi bagi seseorang yang pernah melewati masa sulit terkait tubuh dan kesehatan mental, penerimaan diri bisa menjadi perjalanan yang panjang. Tidak selalu ada satu momen dramatis ketika semuanya langsung terasa baik-baik saja.
Justru prosesnya bisa berjalan perlahan. Belajar mendengarkan diri sendiri, memahami bahwa tubuh tidak harus memenuhi standar orang lain, dan menyadari bahwa nilai seseorang tidak ditentukan oleh ukuran tubuh merupakan bagian dari perjalanan tersebut.
Cerita Ariana juga menunjukkan bahwa proses mencintai diri sendiri bukan berarti seseorang harus selalu merasa percaya diri setiap saat. Ada hari ketika seseorang merasa baik, ada pula hari ketika rasa tidak aman kembali muncul, dan keduanya tetap merupakan bagian dari menjadi manusia.
Jangan Jadikan Tubuh Orang Lain sebagai Bahan Penilaian
Kisah Ariana Grande pada akhirnya bukan tentang bagaimana tubuhnya berubah dari waktu ke waktu. Ini tentang betapa mudahnya kita salah membaca seseorang hanya karena terlalu fokus pada apa yang terlihat.
Urbie’s, mungkin setelah ini kita bisa mulai mengubah kebiasaan kecil. Ketika melihat seseorang yang mengalami perubahan fisik, tidak selalu harus ada komentar tentang tubuhnya, karena kita tidak pernah tahu apakah perubahan tersebut merupakan sesuatu yang ia rayakan atau justru bagian dari perjuangan yang sedang ia hadapi.
Begitu pula ketika seseorang terlihat “lebih sehat” menurut standar kita. Daripada langsung memberikan penilaian, mungkin lebih baik membiarkan mereka menentukan sendiri bagaimana perasaan mereka terhadap tubuh dan kehidupannya.
Ariana Grande kini mengatakan bahwa dirinya berada di tempat yang lebih baik dalam menerima dan mencintai diri sendiri. Dan mungkin pesan paling penting dari kisahnya adalah bahwa kita tidak pernah benar-benar tahu perjuangan seseorang hanya dengan melihat tubuhnya.
Jadi, Urbie’s, sebelum mengetik komentar tentang tubuh orang lain, coba berhenti sebentar dan pikirkan satu hal: apakah orang tersebut benar-benar membutuhkan penilaian kita, atau sebenarnya mereka hanya membutuhkan ruang untuk menjadi dirinya sendiri?


















































