Hi Urbie’s! Kepergian Bambang Sutrisno atau Trisno, bassist legendaris Pas Band, tak hanya meninggalkan duka bagi keluarga dan para personel band, tetapi juga membuka kembali banyak kenangan yang selama ini tersimpan rapat. Salah satunya datang dari Che, vokalis Cupumanik, yang membagikan cerita emosional tentang momen-momen kebersamaannya dengan Trisno melalui media sosial.
Cerita tersebut bukan sekadar nostalgia. Di balik unggahannya, tersimpan kisah tentang kepercayaan, persahabatan, hingga sebuah lagu yang belum pernah dirilis ke publik. Ada pula cerita mengenai konser yang seharusnya mempertemukan Che dengan Pas Band di atas panggung, tetapi akhirnya tak pernah terjadi karena keadaan yang sama sekali tak terduga.
Unggahan itu pun membuat banyak penggemar Pas Band tersentuh. Sebab, mereka tidak hanya mengenang sosok Trisno sebagai bassist andal, tetapi juga sebagai pribadi yang hangat dan begitu menghargai orang-orang di sekitarnya.
Berawal dari Pesan Singkat Bengbeng pada 2018
Che mengawali ceritanya dengan mengenang sebuah pesan yang diterimanya pada tahun 2018 dari gitaris Pas Band, Bengbeng.
Saat itu, Bengbeng menghubunginya melalui pesan singkat dengan ajakan yang sederhana namun mengejutkan.
“Che, bantuin Pas isi vokal yuks.”
Ajakan tersebut kemudian berlanjut ke percakapan melalui telepon. Awalnya, Che mengira dirinya hanya akan mengisi sebagian bagian vokal dalam lagu tersebut.
Ia bahkan sempat meminta materi lagu lebih dulu agar bisa mengetahui bagian mana yang akan dinyanyikan oleh vokalis Pas Band, Yukie, dan bagian mana yang menjadi porsinya.
Namun jawaban Bengbeng justru membuatnya terdiam.
Menurut Che, Bengbeng mengatakan bahwa lagu tersebut kemungkinan besar akan dinyanyikan sepenuhnya olehnya.
Meski menerima tawaran itu, Che mengaku masih menyimpan tanda tanya dalam benaknya.
“Oh, saya nyanyi sendiri ternyata untuk Pas.”
Pertemuan Hangat dengan Trisno di Studio Rekaman
Kesempatan itu akhirnya tiba pada 22 Juli 2018, sehari setelah Cupumanik tampil di Bandung.
Sebelumnya, Trisno sempat menghubungi Che dan mengajaknya datang ke Studio Reverse untuk melakukan proses rekaman vokal.
Saat tiba di studio, Bengbeng dan Trisno sudah lebih dulu berada di lokasi.
Che mengenang pertemuan itu diawali dengan pelukan hangat, sebelum Trisno menyerahkan lembar lirik lagu yang ternyata ditulis sepenuhnya oleh dirinya sendiri.
Menurut Che, musik untuk lagu tersebut sebenarnya sudah direkam sejak lama.
Liriknya memang terasa gelap, tetapi tetap menyimpan secercah optimisme bahwa suatu hari keadaan akan menjadi lebih baik.
Baca Juga:
- 3 Spot Kuliner Baru di iLLago Grande Gading Serpong yang Wajib Dicoba, Ada Sushi Mulai Rp5.000 hingga Cafe Work From Cafe
- Sinopsis Film Deep Water (2026): Berawal dari Satu Power Bank, Penerbangan Berubah Jadi Neraka di Laut Penuh Hiu
- Bunga di Tepi Jurang Tayang 31 Juli, Kisah Perjuangan Andini Siap Bikin Penonton Ikut Merasakan Setiap Emosinya
Kalimat Trisno yang Tak Pernah Dilupakan Che
Di tengah proses rekaman, Che meminta Bengbeng dan Trisno masuk ke ruang kontrol untuk mendengarkan langsung proses pengambilan vokalnya.
Namun, jawaban Trisno justru menjadi momen yang paling membekas hingga sekarang.
Menurut Che, Trisno berkata bahwa dirinya dipilih bukan semata karena teknik bernyanyinya.
Sebaliknya, Trisno mengaku mempercayainya karena memiliki attitude yang baik.
Ucapan sederhana itu membuat suasana studio berubah hangat. Mereka tertawa bersama, menikmati proses kreatif yang kini justru menjadi salah satu kenangan terakhir yang tak tergantikan.
Che juga mengungkapkan bahwa nuansa lagu tersebut mengingatkannya pada band grunge legendaris Alice In Chains, komentar yang langsung disambut tawa Bengbeng dan Trisno.
Menariknya, lagu tersebut hingga kini disebut belum pernah dirilis dan kemungkinan masih tersimpan di bank data Pas Band.

Konser yang Tak Pernah Terwujud
Kisah mereka ternyata belum berhenti di studio rekaman.
Pada tahun 2019, Trisno bersama Bengbeng dan drummer Pas Band, Sandy Andarusman, kembali menghubungi Che.
Kali ini bukan untuk rekaman, melainkan mengajaknya tampil bersama Pas Band dalam sebuah konser di Cibubur.
Che mengaku sudah mulai menghafal lagu-lagu Pas Band demi penampilan tersebut.
Namun, takdir berkata lain.
Di waktu yang bersamaan, ayahnya sedang berada dalam kondisi kritis dan menjalani perawatan di rumah sakit.
Che memilih tetap berada di sisi sang ayah dan membatalkan penampilannya bersama Pas Band.
Kesempatan yang telah lama dinanti itu akhirnya tidak pernah terwujud.
Salam Perpisahan untuk Seorang Legenda
Menutup unggahannya, Che menyampaikan doa yang menyentuh hati bagi mendiang Trisno.
Ia berharap setiap dentingan bass yang selama puluhan tahun menguatkan lagu-lagu Pas Band, serta jutaan pendengar yang pernah disentuh karya-karyanya, menjadi amal kebaikan bagi sang musisi.
Che juga menyampaikan belasungkawa kepada keluarga besar Pas Band atas kepergian sosok yang ia kenal sebagai musisi sekaligus sahabat.
Unggahan tersebut langsung dibanjiri komentar dari para penggemar yang ikut mengenang kontribusi Trisno bagi dunia musik Indonesia.
Di balik kepiawaiannya memainkan bass, kisah yang dibagikan Che memperlihatkan sisi lain Trisno: seorang musisi yang rendah hati, percaya pada proses, dan lebih menghargai karakter seseorang daripada sekadar kemampuan teknis.
Kini, meski Trisno telah berpulang, cerita-cerita seperti inilah yang membuat namanya akan terus hidup di hati para sahabat, rekan musisi, dan jutaan penggemar Pas Band yang tumbuh bersama karya-karyanya.


















































